Ilmu Ilmu Baru

untuk Indonesia tercinta

Para ilmuwan menciptakan pembuluh darah dari stem sel

hesc_591New York Stem Cell Foundation (NYSCF)-Druckenmiller Fellow, Daylon James, PhD, dari Weill Cornell Medial College, adalah penulis laporan penelitian yang mendefinisikan kondisi-kondisi untuk menumbuhkan suplai sel-sel endotelial (lapisan dalam pembuluh darah) dalam jumlah melimpah yang sesuai untuk penggunaan terapi. Dr. James dan kolega menciptakan suatu garis “reporter” human embryonic stem cell (hESC) yang dapat digunakan untuk mengukur produksi dan aktivitas sel endothelial.

Penelitian tersebut, perluasan dan pemeliharaan sel endothelial yang berasal dari human embryonic stem sel dengan penghambatan TGFβ adalah tergantung Id1, dipublikasikan di edisi online Nature Biotechnology pada 17 Januari 2010, dan juga akan muncul di edisi cetak. Selain Dr. James, yang bekerja dengan didanai oleh NYSCF, kontributor dalam penelitian ini juga termasuk NYSCF-Druckenmiller Fellows, Drs. Gabsang Lee dan Marco Seandel. Baca lebih lanjut

Iklan

Januari 28, 2010 Posted by | Riset Kedokteran | , , | 1 Komentar

Darah menyuruh sel-sel tua untuk bertindak seperti sel muda


Bookmark and Share

bloodtellsolPeneliti-peneliti Harvard Stem Cell Institute (HSCI) di Joslin Diabetes Center (JDC) telah melakukan langkah besar dalam memahami – dan mungkin memperlambat – proses penuaan.

Dalam beberapa seri eksperimen yang hati-hati, Amy J. Wagers dan kolega telah mendemonstrasikan bahwa stem sel dari tikus tua yang ter-ekspose faktor-faktor tertentu yang ada di dalam darah tikus muda mulai bertindak seperti stem sel muda, dengan proses yang dipicu oleh sinyal dari tipe sel lain di dekatnya di dalam tulang. Kenyataannya, tidak hanya membuat stem sel darah mulai mengambil sifat-sifat sel muda, tetapi jaringan tikus tua yang ter-ekspose faktor yang belum teridentifikasi ini tampak jauh lebih terlihat muda.

Penelitian terakhir yang dilakukan grup Wagers ini dipublikasikan Nature edisi hari ini. Laporan ini memajukan pemahaman tentang penuaan sistem hematopoietic pembentukan darah dan mengarahkan cara mengobati penyakit-penyakit yang berhubungan dengan penuaan melalui darah. Baca lebih lanjut

Januari 28, 2010 Posted by | Riset Kedokteran | , , , , , | 1 Komentar

Otot-otot buatan mengembalikan kemampuan untuk berkedip, menyelamatkan penglihatan

Ahli bedah dari UC Davis Medical Center telah mendemonstrasikan bahwa otot buatan dapat mengembalikan kemampuan pasien dengan kelumpuhan wajah untuk berkedip, suatu perkembangan yang dapat bermanfaat bagi ribuan orang tiap tahun nya yang tidak lagi mampu menutup kelopak matanya karena luka perang, stroke, perlukaan saraf atau bedah wajah.

Selain itu, teknik tersebut, yang menggunakan kombinasi lead elektroda dan polimer silikon, dapat digunakan untuk membuat otot sintetik yang mengontrol bagian lain dari tubuh. Prosedur baru ini dijelaskan dalam sebuah artikel di Archives of Facial Plastic Surgery edisi Januari-Februari.

“Ini merupakan gelombang pertama pemakaian otot buatan dalam sistem biologi,” kata Travis Tollefson, seorang ahli bedah plastik di UC Davis Department of Otolaryngology – Head and Neck Surgery. “ Tetapi ada banyak ide dan konsep dimana teknologi ini akan memainkan peranan.”

Dalam penelitian mereka, Tollefson dan kolega mencari untuk mengembangkan protokol dan disain alat untuk implantasi electroactive polymer artificial muscle (EPAM) pada manusia untuk menciptakan kedipan mata yang akan melindungi mata dan memperbaiki penampilan wajah. EPAM merupakan suatu teknologi baru yang mempunyai potensi untuk digunakan dalam rehabilitasi gerakan wajah pada pasien dengan kelumpuhan. Polimer elektroaktif berperilaku seperti otot manusia dengan memanjang dan berkontraksi, tergantung level input voltase. Baca lebih lanjut

Januari 19, 2010 Posted by | Riset Kedokteran | , , | Tinggalkan komentar

Mengapa bayi baru lahir tidak bisa berjalan

Langkah-langkah awal seorang bayi adalah suatu tonggak peristiwa dalam perkembangan semua mamalia termasuk manusia, tetapi sedikit yang diketahui tentang mengapa beberapa binatang dapat berjalan segera setelah lahir, sementara yang lain perlu berbulan-bulan, atau dalam hal manusia, satu tahun atau lebih, untuk melakukan langkah pertama. Sekarang sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan di Swedia telah memberi cahaya bagi misteri ini, menemukan bahwa waktu yang dibutuhkan oleh semua mamalia untuk mulai berjalan sangat erat berhubungan dengan ukuran otak dewasa mereka.

Para peneliti dari Lund University, dipimpin oleh pakar neurofisiologi Martin Garwicz, menemukan bahwa tonggak-tonggak perkembangan motorik pada tikus dan musang, seperti merangkak dan berjalan, mengikuti jadwal yang sama tetapi pada angka yang berbeda, lebih cepat pada tikus. Tim kemudian ingin tahu apakah hasil serupa akan ditemukan pada mamalia lain. Baca lebih lanjut

Desember 21, 2009 Posted by | Ilmu Saraf | , , , , , | Tinggalkan komentar

Para Peneliti Menunjukkan Gelombang Otak dapat ‘Menulis’ di Komputer pada Tes Awal

Para ahli saraf di Mayo Clinic campus, Jacksonville, Fla., telah berhasil mendemonstrasikan bagaimana gelombang otak dapat digunakan untuk mengetik huruf alfanumerik pada layar komputer. Dengan terus fokus pada “q” di kotak huruf, misalnya, “q” tersebut muncul di monitor.

Para peneliti mengatakan bahwa penemuan ini, yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Epilepsy Society tahun 2009, menunjukkan kemajuan nyata ke arah mesin pikiran (mind machine) yang mungkin suatu hari akan membantu orang dengan berbagai peralatan kontrol untuk kelainan-kelainan, seperti tangan atau kaki palsu. Kelainan-kelainan ini termasuk Lou Gehrig’s disease dan trauma medula spinalis, dll. Baca lebih lanjut

Desember 17, 2009 Posted by | Riset Kedokteran | , , , , , , | Tinggalkan komentar

Vaksin yang Dikembangkan untuk Membantu Para Perokok Berhenti

Glaxo-SmithKline telah bergabung dengan Nabi Pharmaceutical untuk memproduksi suatu vaksin yang bisa membantu para perokok berhenti dari ketagihannya secara permanen.

Vaksin tersebut, NicVAX, bekerja dengan mencegah nikotin memasuki otak, sehingga menghentikan para perokok mendapatkan sensasi menyenangkan apa pun yang menyebabkan ketagihan. Suntikan akan berefek sekitar 1 bulan dan para perokok tersebut memerlukan suntikan setiap bulan selama 6 bulan untuk memastikan ketagihannya hilang secara permanen.

Vaksin ini menstimulasi sistem imun untuk memproduksi antibodi terhadap molekul nikotin kecil, komponen utama penyebab ketagihan pada asap tembakau. Antibodi tersebut mengikat nikotin dan kombinasi antibodi-nikotin ini terlalu besar untuk masuk ke otak melalui peredaran darah.

Baca lebih lanjut

November 23, 2009 Posted by | KEDOKTERAN | , , , | Tinggalkan komentar