Ilmu Ilmu Baru

untuk Indonesia tercinta

Analisis genetik memberikan harapan bahwa spesies kura-kura yang telah punah mungkin hidup lagi

Berterima kasih pada data genetis yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari tulang-tulang yang ditemukan di beberapa koleksi museum, sebuah tim peneliti internasional yang dipimpin oleh ilmuwan-ilmuwan dari Yale meyakini bahwa dimungkinkan menghidupkan kembali satu spesies kura-kura yang punah karena perburuan oleh para penangkap ikan paus yang mengunjungi Galapagos selama awal abad 19, sebelum Charles Darwin melakukan kunjungan terkenalnya.

Suatu analisis genetis dari 156 kura-kura yang hidup dalam kurungan dan DNA yang diambil dari sisa-sisa spesimen Chelonoidis elephantopus yang sekarang telah punah mengungkapkan bahwa sembilan merupakan keturunan dari spesies yang telah lenyap tersebut, yang pernah tinggal di Pulau Floreana, Galapagos. Selama beberapa generasi, suatu program pembiakan selektif pada kura-kura ini seharusnya mampu menghidupkan kembali spesies C. elephantopus kata Adalgisa Caccone, ilmuwan peneliti senior di department of ecology and evolutionary biology di Yale dan penulis senior dari artikel yang telah dipublikasikan minggu ini di jurnal online PLoS ONE.

“Secara teori, kita dapat menyelamatkan suatu spesies yang telah punah,” kata Caccone. “Lab kami menyebutnya proyek Lazurus”.

Pada 2007, Caccone dan yang lainnya menemukan genetik yang berkerabat dengan “Lonesome George” spesies lain kura-kura Galapagos yang masih bertahan dan merupakan icon gerakan konservasi. Tim percaya bahwa kura-kura dengan hibrid genetik yang sama yang hidup dalam kurungan di Galapagos adalah keturunan kura-kura yang dibawa oleh para penangkap paus sebagai makanan masa depan tetapi kemudian dibuang keluar kapal untuk membuat ruang bagi lemak ikan paus yang lebih menguntungkan. Kura-kura tersebut kemudian berenang ke pulau-pulau terdekat dan kawin dengan kura-kura penghuni asli disana. Topografi Floreana yang datar menjadikan titik populer bagi para penangkap paus untuk berhenti dan menangkap kura-kura untuk makan, menyebabkan kepunahan C. elephantopus.

Perbandingan data genetis dari sisa-sisa yang ada di museum sebagai bank data  dengan data DNA dari kura-kura hidup memungkinkan untuk mengidentifikasi hubungan kekerabatan dari binatang-binatang yang telah punah, kata Caccone. Namun, ini akan memerlukan waktu empat generasi untuk pembiakan selektif – sekitar 100 tahun – untuk membawa anggota spesies yang secara genetis identik dengan C. elephantopus kembali hidup.

“Kami tidak akan ada untuk melihatnya, tetapi ini dapat dilakukan,” katanya

Penulis paper dari Yale lain adalah Edgar Benavides dan Jeffrey R. Powell. Para peneliti dari University of British Columbia Okanagan, University of Crete, State University New York Syracuse and the Galapagos National Park Service berkontribusi dengan riset ini.

Provided by Yale University (news : web)

Iklan

Januari 19, 2010 - Posted by | Bioteknologi | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: