Ilmu Ilmu Baru

untuk Indonesia tercinta

Para Peneliti Menunjukkan Gelombang Otak dapat ‘Menulis’ di Komputer pada Tes Awal

Para ahli saraf di Mayo Clinic campus, Jacksonville, Fla., telah berhasil mendemonstrasikan bagaimana gelombang otak dapat digunakan untuk mengetik huruf alfanumerik pada layar komputer. Dengan terus fokus pada “q” di kotak huruf, misalnya, “q” tersebut muncul di monitor.

Para peneliti mengatakan bahwa penemuan ini, yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Epilepsy Society tahun 2009, menunjukkan kemajuan nyata ke arah mesin pikiran (mind machine) yang mungkin suatu hari akan membantu orang dengan berbagai peralatan kontrol untuk kelainan-kelainan, seperti tangan atau kaki palsu. Kelainan-kelainan ini termasuk Lou Gehrig’s disease dan trauma medula spinalis, dll.

“Lebih dari 2 juta orang di USA mungkin akan diuntungkan oleh peralatan yang bisa dikontrol dengan suatu komputer otak,” kata pemimpin penelitian, ahli saraf Jerry Shih, M.D. “Penelitian ini mendasari sebuah langkah bayi di jalan yang mengarah ke masa depan, tetapi ini menunjukkan kemajuan nyata dalam penggunaan gelombang otak untuk mengerjakan tugas tertentu.”

Dr Shih dan peneliti-peneliti lain di Mayo Clinic bekerja dengan Dean Krusienski, Ph.D dari University of North Florida dalam penelitian ini yang dilakukan pada dua pasien epilepsi. Pasien-pasien ini telah dimonitor untuk aktivitas kejangnya menggunakan electrocorticography (ECoG), dimana elektroda-elektroda ditempatkan secara langsung pada permukaan otak untuk merekam aktifitas listrik yang dihasilkan oleh sel-sel saraf. Prosedur ini memerlukan craniotomy, suatu pembedahan tengkorak.

Dr. Shih ingin meneliti suatu mesin pikiran pada pasien-pasien ini karena dia berhipotesis bahwa feedback dari elektroda yang ditempatkan langsung pada permukaan otak akan jauh lebih spesifik daripada data yang dikumpulkan dari electroencephalography (EEG), dimana elektroda-elektroda ditempatkan pada kulit kepala. Kebanyakan penelitian mesin pikiran dilakukan dengan EEG, kata Dr. Shih.

“Terdapat perbedaan besar dalam kualitas informasi yang anda dapatkan dari ECoG dibandingkan dari EEG. Kulit kepala dan tulang tengkorak menyebarkan dan menyimpangkan sinyal, agak mirip dengan bagaimana atmosfer bumi mengaburkan cahaya dari matahari,” katanya. “itulah mengapa kemajuan pengembangan mesin pikiran ini berjalan lambat.”

Karena pasien-pasien ini telah mempunyai elektroda-elektroda ECoG yang diimplantasikan pada otak mereka untuk menemukan area dimana kejang berasal, para peneliti dapat mengetes calon komputer otak mereka.

Dalam penelitian ini, dua pasien tersebut duduk di depan sebuah monitor yang dihubungkan dengan sebuah komputer yang menjalankan software peneliti, yang didisain untuk menginterpretasikan sinyal listrik yang datang dari elektroda.

Pasien diminta untuk melihat ke layar, yang berisi kotak 6×6 dengan satu huruf alfanumerik di dalam tiap kotak. Setiap kali kotak dengan huruf tertentu menyala, dan pasien fokus padanya, komputer merekam respon otak terhadap huruf yang menyala itu. Kemudian pasien diminta untuk fokus pada huruf-huruf tertentu, dan software komputer merekam informasi tersebut. Komputer kemudian mengkalibrasi sistem tersebut dengan gelombang otak spesifik pasien secara individual dan jika pasien kemudian fokus pada sebuah huruf, huruf akan tampak pada layar.

“Kami bisa secara konsisten memprediksi huruf yang dipilih pasien pada atau mendekati keakuratan 100%,” kata Dr. Shih. “Jika ini bisa dibandingkan dengan hasil peneliti lain yang menggunakan EEG, pendekatan ini lebih terlokalisasi dan berpotensi memberikan suatu angka komunikasi yang lebih cepat. Tujuan utama kami adalah untuk menemukan suatu cara menggunakan gelombang otak pasien secara efektif dan konsisten untuk melakukan tugas tertentu.”

Ketika teknik ini disempurnakan, penggunaannya akan membutuhkan craniotomy pada pasien, meskipun masih belum diketahui berapa banyak elektroda yang akan diimplantasikan. Dan software harus mengkalibrasi tiap gelombang otak orang terhadap tindakan yang diinginkan, misalnya gerakan tangan palsu, kata Dr. Shih. “pasien-pasien ini harus menggunakan sebuah komputer yang menginterpretasikan gelombang otaknya, tetapi alat ini akan menjadi sangat kecil, ada kemungkinan bahwa alat ini dapat diimplantasikan pada beberapa titik,” katanya.

“Kami mendapatkan kemajuan kami sejauh ini sangat membesarkan hati,” katanya.

Source: Mayo Clinic (web)

Iklan

Desember 17, 2009 - Posted by | Riset Kedokteran | , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: